CAHAYA KEHIDUPAN
Berikan aku cahaya, sesuatu yang dapat membantuku
melihat kebenaran.
|
s
|
ejak cahaya menghilang
dari desa kami, dia selalu meminta cahaya, jadi aku kisahkanlah padanya tentang
seekor cacing yang buta tinggal di kegelapan tanpa cahaya tetapi ia bisa
merasakan sesuatu di sekitarnya tanpa harus melihat.
Dulu
desa kami selalu bercahaya. Matahari begitu benderang dan bintang-bintang
sangat gemerlapan ditambah kunang-kunang menari bersama cahaya. Desa kami
sangat terang di malam hari, cahaya ada dimana-mana. Cahaya menjadi bagian yang
tak terpisahkan dari hidup kami.
Sampai
suatu hari, datang orang-orang dari luar desa, mereka menebangi pohon-pohon di
hutan dan menanami ladang-ladang sesukanya. Sejak itu kami tak punya apa-apa
kecuali cahaya. Semua telah mereka rampas. Kami bahkan tidak bisa sembarangan
mengambil biji yang jatuh dari pohon, karena jika melakukan itu, kami bisa
dituduh mencuri. Kami tidak mampu melawan mereka. Kami hanya bisa menangis dan
meratapi nasib kami. Lalu kami lebih memilih diam dam menjahit mulut kami
dengan cahaya, tapi mereka biarkan mulut kami dipenuhi luka. Bahkan ketika kami
membakar diri dengan cahaya, mata mereka tetap saja buta, tak mau melihat
kebenaran yang ada.
Hingga suatu hari, kami
membuat tali dari cahaya dan menggantungkan diri, setelah itu cahaya padam
selamanya. Sekarang kegelapan menyelimuti desa, tidak ada terang, tidak ada
cahaya, semua padam. Kini kami takut akan kegelapan melebihi takut mati. Mungkin cahaya marah terhadap kami karena
kami menggunakannya untuk bunuh diri.
Tidak ada lagi yang bisa dilihat sejak gelap benar-benar
menguasai desa. Kami bahkan tidak bisa melihat jari-jari tangan sendiri. Kami
berjalan tanpa arah demi mencari cahaya, jalanan di penuhi jerit tangis
orang-orang yang mulai kehilangan anak ataupun ibu mereka.
Kegelapan kini
menyebar dengan cepat ke desa-desa lain.
Kepanikan terjadi dimana-mana. Ribuan orang di evakuasi munuju kota, namun
gelap menyambar sampai kota. akhirnya seluruh tempat terseret dalam malam yang
berkepanjangan. Tidak ada lagi tempat yang dituju, tak ada tempat yang tak
kehilangan cahaya. Negeri kami benar-benar gelap, dingin dan mencekam.
Kini
cahaya sangat berharga. Hingga suatu hari seseorang muncul dengan sepotong
cahaya di tangannya. Hanya sepotong cahaya, tapi bagaikan magnet yang saling
menarik kami menuju cahaya itu. Orang berlomba-lomba ingin memiliki cahaya.
Mereka menawarkan uang, emas, jam tangan, bahkan baju dan celana yang sedang
mereka pakai. Yang lainnya tidak memiliki apa-apa lagi kecuali tubuh mereka.
Maka mereka pun mulai memotong-motongnya.
Ada yang memotong kakinya, tangannya, telingannya, bahkan
yang mencungkil matanya. Cahaya yang dulu membawa kebahagiaan kini menjadi
mengerikan dan miris. Lihatlah mereka dalam sekejap menjadi liar. Mereka
berkelahi di atas genangan darah demi memperebutkan sepotong cahaya, hingga
sepotong cahaya itu jatuh dan terbenam dalam kubangan darah. Lalu padam. Namun
bau darah segar itu lebih menggiurkan daripada cahaya. Darah membangkitkan
naluri yang sangat purba membuat orang saling membunuh. sejak itu mereka tidak
lagi mencari cahaya tapi memburu sesama manusia.
Barangkali
hanya aku yang tetap setia mencari cahaya dengan mengendap-endap dalam sunyi
agar selamat dari tikaman taring mereka. Meskipun gelap tapi nurani tetap
menyala, sayangnya..... nurani tersembunyi dalam hati, bagian tubuh yang paling
gelap. Hanya merekalah yang percaya yang dapat melihat cahaya. Cahaya ada pada
diri kita masing-masing dan tergantung bagaimana cara kita membuat cahaya itu bersinar.
Hati
manusia gelap terbungkus akan kesunyian. Mereka yang menjadi liar kerena mereka
tidak mempercayai hati mereka. Mereka hanya mengikuti keinginan dan nafsu
mereka, takut dan panik sehingga membuat mereka menjadi begitu.
Mereka
menyia-siakan sesuatu yang ada, berbuat sesuka mereka demi kepentingan mereka,
membiarkan nya hingga menghilang lalu menangis dalam mencarinya serta membawa
nyawa dan raga mereka pergi.
Satu
hal pertanyaan yang sampai sekarang mereka lupakan,
“SIAPAKAH YANG MEMBUAT CAHAYA ?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar