Jumat, 18 April 2014

CERPEN MOTIVASI



CAHAYA KEHIDUPAN
Berikan  aku cahaya, sesuatu yang dapat membantuku melihat kebenaran.
s
ejak cahaya menghilang dari desa kami, dia selalu meminta cahaya, jadi aku kisahkanlah padanya tentang seekor cacing yang buta tinggal di kegelapan tanpa cahaya tetapi ia bisa merasakan sesuatu di sekitarnya tanpa harus melihat.
Dulu desa kami selalu bercahaya. Matahari begitu benderang dan bintang-bintang sangat gemerlapan ditambah kunang-kunang menari bersama cahaya. Desa kami sangat terang di malam hari, cahaya ada dimana-mana. Cahaya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kami.
Sampai suatu hari, datang orang-orang dari luar desa, mereka menebangi pohon-pohon di hutan dan menanami ladang-ladang sesukanya. Sejak itu kami tak punya apa-apa kecuali cahaya. Semua telah mereka rampas. Kami bahkan tidak bisa sembarangan mengambil biji yang jatuh dari pohon, karena jika melakukan itu, kami bisa dituduh mencuri. Kami tidak mampu melawan mereka. Kami hanya bisa menangis dan meratapi nasib kami. Lalu kami lebih memilih diam dam menjahit mulut kami dengan cahaya, tapi mereka biarkan mulut kami dipenuhi luka. Bahkan ketika kami membakar diri dengan cahaya, mata mereka tetap saja buta, tak mau melihat kebenaran yang ada.
Hingga suatu hari, kami membuat tali dari cahaya dan menggantungkan diri, setelah itu cahaya padam selamanya. Sekarang kegelapan menyelimuti desa, tidak ada terang, tidak ada cahaya, semua padam. Kini kami takut akan kegelapan melebihi takut mati.  Mungkin cahaya marah terhadap kami karena kami menggunakannya untuk bunuh diri.
          Tidak ada lagi yang bisa dilihat sejak gelap benar-benar menguasai desa. Kami bahkan tidak bisa melihat jari-jari tangan sendiri. Kami berjalan tanpa arah demi mencari cahaya, jalanan di penuhi jerit tangis orang-orang yang mulai kehilangan anak ataupun ibu mereka.
Kegelapan kini menyebar  dengan cepat ke desa-desa lain. Kepanikan terjadi dimana-mana. Ribuan orang di evakuasi munuju kota, namun gelap menyambar sampai kota. akhirnya seluruh tempat terseret dalam malam yang berkepanjangan. Tidak ada lagi tempat yang dituju, tak ada tempat yang tak kehilangan cahaya. Negeri kami benar-benar gelap, dingin dan mencekam.
Kini cahaya sangat berharga. Hingga suatu hari seseorang muncul dengan sepotong cahaya di tangannya. Hanya sepotong cahaya, tapi bagaikan magnet yang saling menarik kami menuju cahaya itu. Orang berlomba-lomba ingin memiliki cahaya. Mereka menawarkan uang, emas, jam tangan, bahkan baju dan celana yang sedang mereka pakai. Yang lainnya tidak memiliki apa-apa lagi kecuali tubuh mereka. Maka mereka pun mulai memotong-motongnya.
          Ada yang memotong kakinya, tangannya, telingannya, bahkan yang mencungkil matanya. Cahaya yang dulu membawa kebahagiaan kini menjadi mengerikan dan miris. Lihatlah mereka dalam sekejap menjadi liar. Mereka berkelahi di atas genangan darah demi memperebutkan sepotong cahaya, hingga sepotong cahaya itu jatuh dan terbenam dalam kubangan darah. Lalu padam. Namun bau darah segar itu lebih menggiurkan daripada cahaya. Darah membangkitkan naluri yang sangat purba membuat orang saling membunuh. sejak itu mereka tidak lagi mencari cahaya tapi memburu sesama manusia.
Barangkali hanya aku yang tetap setia mencari cahaya dengan mengendap-endap dalam sunyi agar selamat dari tikaman taring mereka. Meskipun gelap tapi nurani tetap menyala, sayangnya..... nurani tersembunyi dalam hati, bagian tubuh yang paling gelap. Hanya merekalah yang percaya yang dapat melihat cahaya. Cahaya ada pada diri kita masing-masing dan tergantung bagaimana cara kita membuat cahaya itu bersinar.
Hati manusia gelap terbungkus akan kesunyian. Mereka yang menjadi liar kerena mereka tidak mempercayai hati mereka. Mereka hanya mengikuti keinginan dan nafsu mereka, takut dan panik sehingga membuat mereka menjadi begitu.
Mereka menyia-siakan sesuatu yang ada, berbuat sesuka mereka demi kepentingan mereka, membiarkan nya hingga menghilang lalu menangis dalam mencarinya serta membawa nyawa dan raga mereka pergi.
Satu hal pertanyaan yang sampai sekarang mereka lupakan,
SIAPAKAH YANG MEMBUAT CAHAYA ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar